Umbul Cokro Salah Satu Tempat Wisata Di Klaten Terbaik Saat Ini

Potret sungai yang mengalir jernih kelihatannya sudah jadi barang langka, khususnya buat mereka yang kesehariannya tinggal di wilayah perkotaan. Tetapi, langka bukan bermakna tanpa. Di Kabupaten Klaten, masih terbangun banyak mata air yang benar-benar jernih. Mata air ini oleh masyarakat ditempat disebutkan Umbul Cokro. Karena sangat jernihnya, beberapa pengunjung yang berkunjung kesana seringkali menganalogikannya seperti air “Aqua”.

Meskipun jarak di antara Kabupaten Klaten serta Yogyakarta tidak jauh-jauh sangat, tapi selama 4 tahun tinggal di Yogya dahulu saya justru tidak pernah menyambangi Umbul Cokro. Baru mendekati waktu kuliah selesai, saya terpikirkan untuk menelusuri mata air-mata air yang berada di Klaten. Nama Umbul Cokro tidak asing di Instagram. Tetapi, waktu lihat beberapa fotonya, saya sedikit ragu. Kok jernih sangat ya? Saya ingin tahu. Apa airnya memang jernih demikian, atau sebab telah diedit sebelum diupload? Maka dari itu saya memutuskan untuk datang ke salah satu tempat wisata di klaten ini.

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya ajak lima rekanan sekos di Yogya dahulu untuk menyambangi Umbul Cokro. Mereka selekasnya menyetujui ajakan saya sebab saling ingin tahu sebening apa pemandian itu. Singkat kata, pada hari Sabtu pagi kami juga pergi bersama dengan memakai sepeda motor.

Dari arah Yogyakarta, Umbul Cokro bisa dibuka lewat jalan raya Yogya-Solo. Sesudah melalui Candi Prambanan, terus meluncur sampai datang di Kota Klaten. Nah, sesudah lewat kota Klaten, kami sedikit bingung. Masalahnya tidak ada satupun dari kami yang pernah berkunjung ke Umbul Cokro. Kadang-kadang kami menerka-nerka jalan, lihat Google Maps, serta menanyakan pada masyarakat ditempat. Berdasar panduan yang kami bisa, dari kota Klaten kami terus telusuri jalan raya Yogya-Solo sampai datang di Kecamatan Delanggu. Cukup jauh, mengingat Delanggu itu hampir dekat sama Kartasura.

Dari Delanggu, tidak ada papan panduan arah yang memperlihatkan tempat Umbul Cokro. Di jalanan pedesaan, saya tidak yakin dengan Google Maps. Memang sich Google Maps tentu bawa saya ke arah. Tetapi, terkadang jalan yang diperlihatkan itu mempersulit. Pernah satu saat di Kulonprogo, GPS dari Google itu justru bawa saya masuk ke jalan dusun yang didalamnya tanah berlumpur. Tidak ingin insiden sama terulang lagi, kesempatan ini saya lebih pilih memercayakan GPS tradisionil, “Gunakan Masyarakat Setempat”, alias bertanya orang.

“Ooo ingin ke Cokro toh masnya. Dari sini, masnya belok kiri. Sudah, masnya lurus saja turuti jalan. Kelak bertemu plang,” kata seorang bapak di tepi pasar Delanggu.

Berikut asyiknya jika melancong di desa. Penduduknya ramah. Mereka menerangkan arah dengan detil, meskipun sering di antara masyarakat satu dengan yang lain jawaban arahnya tidak berkelanjutan. Tetapi, ketulusan serta keramahan mereka masih pantas dapat acungan jempol.

Sesuai instruksi dari bapak barusan, tidak sampai satu jam kami juga datang di Umbul Cokro. Dari penampakan depannya, Umbul Cokro kelihatan biasa saja. Bangunan loketnya simpel, sedikit ornament, sepi pengunjung meskipun hari itu ialah akhir minggu. Seseorang pengunjung harus bayar karcis seharga 7 ribu, selanjutnya dapat berenang sepuasnya.

Berjalan kaki dari loket masuk, ada satu sungai besar yang saluran airnya berwarna kehijauan. Bila sungai yang jernih di photo Instagram itu nyatanya sungai ini, pasti saya sedih. Tetapi, nyatanya bukan sungai berikut yang biasa jadikan tempat berenang. Berjalan sedikit ikuti jalan setapak, kami juga datang dalam suatu saluran sungai pendek yang penampakannya sama seperti foto-foto berada di Instagram.

Sungai Cokro Di sungai pendek berikut saluran air dari Umbul Cokro mengalir sebelum masuk ke saluran Sungai Cokro, sungai besar yang kami jumpai dekat loket masuk. Umbul Cokro ialah satu mata air yang tetap mengalir selama setahun. Bila naik ke atas, ada satu wahana waterbom yang dapat di nikmati tanpa ada butuh bayar . Tetapi, kami lebih pilih mandi di sungai dibanding di waterbom, agar terasa lebih alami.

Bila dilihat berdasar KBBI, kata “umbul” bermakna sumber air yang dapat diminum. Wilayah Polanharjo, Klaten adalah wilayah yang kaya sumber air. Tidak hanya Umbul Cokro, ada umbul lain seperti Umbul Ponggok serta Umbul Sigedang. Awalnya, Umbul Ponggok terkenal terlebih dulu di dunia maya karena pertunjukan photo dibawah airnya. Kata orang, Umbul Ponggok dipanggil jadi Bunaken versus Jawa.

Tuturnya, kehadiran Umbul Cokro telah ada semenjak waktu pemerintahan Pakubuwana ke-IX. Saya tidak paham persis apa dulu Umbul Cokro dipakai jadi tempat bertetirah beberapa bangsawan atau sekedar hanya tempat permandian. Nama Umbul Cokro sendiri dahulunya namanya Umbul Ingas sebab sumber mata airnya ada dari pohon-pohon Ingas yang berada di dekat umbul.

Nama pohon “Ingas” bukan nama pohon yang seringkali disebutkan. Sayang sekali sebab waktu bertandang ke umbul, saya lupa cari tahu seperti apa bentuk pohon Ingas itu. Saat ini, bila saya cari rujukan mengenai pohon Ingas di Mbah Google, yang ada ialah pohon Rengas. Saya tidak paham apa Rengas adalah nama lain dari Ingas. Tetapi, di KBBI disebut jika pohon Rengas ialah pohon yang kayunya berwarna merah, bergetah tajam, apabila getah itu tersentuh dapat menyebabkan kulit melepuh.

Hadirnya sumber air banyak di lokasi Polanharjo, Klaten ini digunakan untuk kebutuhan komersial. Bila berada di di antara rekan-rekan yang beli air minum dalam paket brand “Aqua”, coba lihat dimana tempat pabriknya. Bila yang tercantum ialah Klaten, bermakna air di botol itu diambil serta diproses dari mata air lokasi Polanharjo.

Lihat airnya yang jernih, kami merasakan tidak tahan ingin selekasnya melonjak. Byur! Segarnya bukan main, bila tidak mau disebutkan dingin. Kedalaman sungai sekitar 80cm sampai 1 mtr., jadi cukup aman buat orang yang tidak dapat berenang. Agar lebih enjoy, kami sewa sebuah ban dari pedagang disamping sungai. Sangat nikmat terapung-apung di atas air super jernih ini.

Waktu berendam di air, upayakan tubuh terus bergerak. Bila tidak, rasa dinginnya akan menyerang serta membuat badan bergidik. Nah, agar dapat nikmati kesegarah Umbul Cokro, upayakan jangan mencelupkan jari dahulu ke airnya, sebab “dingin”nya air sering membuat nyali berendam jadi ciut.

Tidak seperti tempat wisata yang umumnya membanderol biaya mahal, menurut saya biaya yang diaplikasikan di Umbul Ponggok ini wajar-wajar saja. Awalannya saya sempat takut untuk sewa tikar. Tetapi, nyatanya harga cuma 5 ribu. Selanjutnya, sarana yang lain juga cukup tertangani, seperti waterbom yang dapat di nikmati tanpa ada diambil biaya penambahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *